Saturday, 15 December 2007

JOBLESS-NEVER- MONTH

Tampaknya, bulan-bulan ke depan akan menjadi bulan super padat. Pasalnya, bulan ini saja banyak kegiatan yang harus dijalankan. Dari persiapan ujian, tugas-tugas kuliah yang masih menumpuk, persiapan debat, up-grading ESA, persiapan ESA'S Fair 2008 (yang tentu saja akan menyita hampir semua perhatian saya), dan agenda EFF -yang jujur membuat saya kewalahan-.
Hari ini ditawari seorang kakak tingkat untuk mengikuti English Debate, awalnya saya ragu,tapi akhirnya yang keluar dari mulut saya adalah kata 'Iya,saya bersedia'. Padahal hari sebelumnya, saya yang bolak-balik mencari peserta untuk mewakili fakultas saya. Ada jatah untuk 2 tim, khusus fakultas saya. Saya sudah dapat tim pertama, yang beranggotakan: Dedi, Nanik, dan Zee. Proses pelobian mereka pun agak lancar. Nanik memang langsung bilang ya, alhamdulillah....Zee, baru saja beberapa menit yang lalu mengatakan bersedia setelah saya membujuknya. Dan Dedi,yang sedang sibuk dengan pementasan teaternya- berhubung saya sudah tahu sifatnya yang suka mencoba hal-hal baru dan tak menyia-nyiakan kesempatan, juga bersedia. Walaupun tadi siang sempat hendak berubah pikiran, tapi kemudian mengurungkan niatnya untuk mengundurkan diri. Dedi semangat!
Dan saya? Saya adalah korban keingintahuan. Saya penasaran, soalnya sepertinya asik juga mencoba. Walupun amatir, tak apalah. Satu keputusan saja, bisa mengubah jalan hidup kita kan? Semoga bukan keputusan yang salah.

Wednesday, 12 December 2007

HARI INI

Semalam untuk kedua kalinya berturut-turut, saya tertidur di lantai tanpa alas karpet ataupun kasur. Tapi masih untungnya, saya sempat menjadikan tas sebagai bantalan tidur, tak seperti malam sebelumnya yang ketiduran sewaktu menulis. Ceritanya, saya baru belajar untuk ujian syntax tadi pagi. Entah bagaimana awalnya, yang jelas, saya tertidur. Dengan badan yang sudah sangat lelah karena banyaknya hal yang harus dipikirkan dan dilakukan, saya tidak merasakan dinginnya lantai kamar kos lagi. Ya, tak peduli lagi. Saya pikir dengan badan yang lelah itu saya bisa tidur nyenyak tanpa bermimpi apa-apa, ternyata saya salah. Malam kemarin saya bermimpi berdiskusi dengan Andre Hirata -penulis Laskar Pelangi- tentang PBB yang mati fungsi, tentang pendidikan Indonesia, tentang guru, tentang pembajakan, dan tentang buku-bukunya. Alhasil, bangun-bangun saya bukannya merasa segar, tapi justru semakin lelah. Saya hanya bisa menghelas nafas, "Ya Allah..."
Ingin rasanya tidur lagi, tapi kemudian adzan subuh berkumandang. Saya sholat, beres-beres kamar dengan buku yang bertumpuk, lalu mulai menyalakan komputer untuk mengerjakan tugas. Belum jadi mengetik tugas, hp saya bunyi. SMS dari Arie. Kuliah jam pertama kosong. Oke. Saya lanjutkan mengerjakan tugas dengan agak tersendat. Di samping karena hp dari tadi bunyi terus, sms dari teman-teman yang menenyakan kabar kosng, mengabari kalau kuliah kosong, ataupun bertanya masalah tugas, juga karena tugasnya sulit. Tapi toh akhirnya selesai juga. Alhamdulillah.
Di kampus, beberapa teman sedang dan masih juga mengerjakan tugas, saya agak lega karena sudah selesai. Saya hanya bingung masalah ujian nantinya. Saya akhirnya belajar bersama seorang teman, Dyah, dan sempat bertanya pada seorang kakak tingkat -mas arif-.
Ujian datang. Awalnya enjoy sekali mengerjakan tugas, tapi setelah selesai mengerjakan, malah saya jadi bingung. Saya tadi gimana caranya mengerjakan ya, karena semua mengalir begitu saya. Saya tadinya terlalu asyik mengerjakan soal bagaikan anak kecil dapat mainan baru. Saya teliti ulang. Bingung. Tapi berhubung sudah cukup yakin, ya saya kumpulkan di waktu pengumpulan. Tepat waktu. Hehehe. Soalnya sedikit sih...tapi jawabannya yang banyak.
Setelah itu berdiskusi masalah ujian bersama teman-teman. Ada yang mengecewakan, tapi biarlah, sudah lewat ini. Sorenya nonton futsalnya anak-anak. Pertandingan antar tingkat. Lalu Dedi, di sela-sela sore tadi, menyerahkan flashdisk tercintanya, pada saya untuk meng-copy tugas silabus. Dan pada akhirnya, FD nya nyetrum. Hah...bikin kaget saja.
Dan saya tulis semua ke dalam blog deh semuanya....


Monday, 10 December 2007

SUSAHNYA CARI NOVEL ORIGINAL

Berhari-hari saya berjuang mencari novel asli alias non-terjemahan. Tapi tahukah saudara-saudara sekalian? Saya tak berhasil menemukannya! Padahal saya sudah mencari ke toko buku terbesar di kota saya, Jogja, ataupun Solo. Di Gramedia, juga tak saya temukan apa yang saya cari. Padahal deadline tugas hampir datang.

Sunday, 2 December 2007

CHICKEN-BASED DEPARTMENT

Sabtu, 01 Desember lalu kami, ESA (English Student Association) mengadakan acara Dialog Dosen-Mahasiswa bagi program Bahasa Inggris fakultas kami. Acara yang direncanakan dimulai pukul 08.00 tepat itu harus molor sampai jam 08.15 dikarenakan peserta DDM dari mahasiswa belum ada yang datang, hanya ada saya, Arie, dan dek Lina. Sedangkan dari dosen, ada Drs.Martono, M.A yang telah datang sejak jam 07.30. Saya tidak habis pikir pada mahasiswa. Di polling yang telah disebarkan, mereka menuntut dosen untuk tepat waktu, tapi sekarang? Justru para mahasiswa yang tidak tepat waktu. Ck..ck..ck…

Akhirnya acara dimulai juga. Pak Martono selaku ketua program, menyampaikan bahwa hendaknya DDM kali ini tidak dijadikan sebagai ajang untuk saling menyerang. Beliau mengatakan bahwa kita tidak boleh memposisikan diri layaknya ‘offense’ dan ‘defense’. Tapi hendaknya apa yang akan kita obrolkan nanti merupakan sesuatu yang bisa dilakukan demi kemajuan program kita. Ya…saya tentu setuju saja.

Acara diawali dengan presentasi hasil polling oleh Arie. Hal yang sangat mencolok dari polling tersebut adalah masalah fasilitas, kedisplinan dosen, dan validitas dosen. Pak Martono adalah orang yang cukup bijak dan terbuka bila dibandingkan dengan ketua program sebelumnya. Tentu saja saya sudah cukup mengenal beliau karena beliau adalah pembimbing akademik saya. Awal acara DDM yang tegang jadi cair setalah beliau mencoba mencairkan suasana.

Di hampir setengah jalannya acara tersebut, tiba-tiba HP saya bunyi. Saya buka, ternyata SMS dari Pak Dwi Elyono (salah satu dosen favorit kami yang kebetulan sedang sakit dan tidak bisa hadir) yang mengatakan bahwa skala penilaian akan diubah menjadi tanpa koma. Jadi hanya akan ada nilai 1;2;3;4 bukan 3.5 atau koma-koma yang lain. Saya memang pernah mendengar kabar itu, tapi saya pikir itu baru isu. Kemudian setelah membaca sms dari pak Dwi yang panjang itu, saya pun menanyakan hal tersebut kapada Pak Martono. Ternyata benar. Dan yang lebih mengecewakan lagi, keputusan itu datangnya dari DIKTI.

Yang cukup menarik adalah sms pak Dwi El berikutnya yang mengatakan,

“Mmang Diknas/DIKTI sering mngeluarkan kputusan yg ddasari cara brpikir ayam (cara brpikir trbalik). Sprti yg kita ketahui: ayam kalau ada motor mlintas, bukan mnghindar tapi malah marani (mendatangi) motor itu.”

Saya berpikir sama dengan Pak Dwi El. Bagaimana bisa nilai 3.6 dan 3.1 disamakan??? Sebenarnya DIKTI itu mikirnya gimana sih? Besok lebih baik diganti saja, bukan lagi Dinas Pendidikan Tinggi, tapi Dinas Pendidikan Berpikir Ayam Digaji Tinggi.

BEASISWA CAIR!!!

Besok pagi beasiswa cair. Rencananya mau dipakai untuk bayar kos dulu, soalnya ayah belum bisa memberi uang kos, baru tidak ada uang. Nah, masalah kebututuhan, eh, keinginan yang lain, kan bisa menunggu….

Besok rapat Divisi…Mumpung bisa ketemu staf-staf semuanya…senangnya! Sudah kangen sama adek-adek yang aneh dan narsis itu.

Can't wait to see them...



Tuesday, 6 November 2007

Romantisme Musim Hujan

Hujan sudah turun. Rasanya sejuk sekali udara setelah hujan. Kalau orang Jawa bilang, namanya bau angpo. Bau angpo itu adalah bau yang tercium akibat tanah yang terkena air hujan. Buatku, angpo sangat menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi kalau hujan yang turun menghantarkan angpo adalah hujan yang rintik-rintik atau gerimis, bukan hujan lebat yang disertai angin kencang. Rasanya sungguh menyejukkan hati.

Nah, kalau di artikel Kompas beberapa waktu yang lalu ada yang berjudul Romantisme Sang Belalang, maka di UNS kami menikmati Romantisme Musim Hujan. Ketika musim hujan datang, bunga-bunga kecil kuning berguguran bak di negeri Jepang. Semua pejalan kaki, pengendara sepeda motor, pengemudi mobil, seolah mengalami slow motion. Mereka berjalan melambat, sekali-kali menengadah, menimati suasana yang jarang kami dapati di hari biasa. Rasanya juga semua orang jadi melankolis, lembut, peka, dan tersenyum dengan manisnya. Sungguh dahsyat pengaruh musim hujan ya…

Setiap musim hujan datang, rasanya jadi kangen pada teman yang jauh di mata, dan entah di mana : )

Jadi ingat lagunya Opik ya, yang judulnya Satu Rindu. Kurang lebih begini liriknya:

Hujan...

Kau ingatkan aku pada satu rindu

Di masa yang lalu

Saat mimpi masih indah bersamaku

Terbayang satu wajah,

Penuh cinta,penuh kasih...

Terbayang satu wajah,

Penuh dengan kehangatan...

Oh Ibu...

Hanya bedanya, lagu ini bercerita tentang kerinduan pada ibu...Hehe. Ada yang sedang rindu dengan seseorang nun jauh di sana?

PS: Maaf atas pemilihan judul untuk postingan kali ini. Hehe.

Selamat datang musim hujan…Kau sudah dinanti-nantikan ribuan petani di desa seberang. Karena kalau kau tak datang, mereka tak bisa mulai musim tanam : )

Monday, 5 November 2007

Menunggu ayah

Saat ini saya sedang di Warnet dekat kantor ayah. Sebenarnya bisa saja saya browsing di kantor ayah. Tapi kemudian hati saya berkata 'nggak ah'. Lagipula tarif internet juga tidak begitu mahal. Apakah saya harus menggunakan fasilitas yang bukan hak saya? Ya sudah, akhirnya saya sampai di 'pelabuhan' ini deh. Warnet Cosmo, begitu namanya.

Pertama masuk, dulu waktu saya kelas 3 SMA. Warnet ini terbilang dekat dengan kos saya waktu SMA, kira-kira 15 menit jalan kaki. Awalnya saya lebih suka di warnet satunya, namanya Laba-Laba Internet. Tapi semenjak lulus dan kuliah, saya jadi enggan untuk pergi ke sana. Aksesnya lambat sekali.

Saya melirik jam di sudut kanan bawah komputer, sudah setengah jam saya menunggu ayah yang katanya mau rapat sebentar. Ya, seharusnya saya menyamakan definisi kata 'sebentar' dulu dengan ayah saya. Karena dulu saya pernah menunggu 3 jam setelah sebelumnya ayah saya menjanjikan akan rapat 'sebentar'.

Sudahlah, hitung-hitung saya bisa buka-buka blog dan e-mail. Lihat blog, ternyata ada tambahan komentar. Seperti kata seorang teman , bagi seorang blogger, mendapat banyak komentar adalah hal yang menyenangkan. Di kampus, belum banyak teman yang nge-blog, jadi ya...beginilah keadaan blog saya. Miskin teman. Maka dari itu, berkunjunglah ke blog saya...Hehe. Maksa nih.

Empat puluh lima menit berlalu, tanda-tanda ayah akan datang belum terasa. Setelah ini saya akan benar-benar memastikan definisi kata 'sebentar' pada ayah, supaya saya tidak 'menua' di warnet gara-gara menunggu ayah yang tak kunjung datang.

ps: sebenarnya ada hal lain yang ingin saya tulis di blog saya kali ini, tapi karena situasi yang tidak mendukung, mungkin baru lain kali baru saya posting.